Yang membuat perjalanan ini semakin istimewa adalah kehadiran langsung Koordinator Kabupaten PKH Pesisir Barat. Beliau tidak hanya memantau dari kejauhan, tapi turun langsung, menjejak bersama pendamping, melewati rute yang sama, minum kopi yang sama, dan berbagi lelah yang sama.
Saat jeda kegiatan, ia bukan bos. Ia menjadi rekan seperjalanan. Di beranda rumah warga, duduk bersila, menyendok kerupuk dari nampan rotan, ia mendengarkan cerita warga dengan mata berbinar. Dan dari sanalah muncul keyakinan: bahwa pendamping bukan sendirian, mereka ditopang oleh sistem yang benar-benar hadir.
Empat Pekon Akses : Empat Dunia, Satu Semangat
1. Way Haru : Tanah Harapan yang Harus Dijemput
Jalan menuju Way Haru lebih cocok disebut jalur uji nyali. Di musim hujan, tanahnya berubah menjadi lumpur lengket yang bisa menguji kesabaran para nabi. Tapi di ujungnya, sambutan warga adalah penawar terbaik.
Seorang ibu KPM berkata lirih saat pendamping datang :
“Saya pikir enggak jadi datang. Ternyata datang juga ya, naik motor itu? Masya Allah.”
Kata-kata sederhana, tapi cukup untuk menghapus rasa lelah sepanjang perjalanan.
2. Siring Gading: Tikungan Emosional di Tengah Hutan
Pekon ini hijau, asri, tapi juga penuh kejutan. Untuk sampai ke Siring Gading, kadang harus melewati jalur sawah, dan motor pun harus diangkat, bukan sekadar didorong.
Namun saat P2K2 dimulai, semuanya terbayar. Warga berkumpul dengan antusias, anak-anak berlarian, dan diskusi berjalan seru meski hanya ditemani kerupuk dan kopi. Harapan itu tumbuh dari sini — di tengah alam yang memeluk dan medan yang menantang.
3. Bandar Dalam: Tempat Di Mana “Dalam” Bukan Sekadar Nama
Untuk menuju Bandar Dalam, kamu tidak cukup hanya punya motor. Kamu butuh nyali, tekad, dan kadang bantuan Tuhan. Di musim hujan, jalanan seperti arena ski lumpur. Tapi Mat Nazwar tahu, di sanalah titik paling butuh sentuhan tangan manusia.
Kegiatan P2K2 pun dilakukan di rumah warga, dengan tikar sebagai aula, dan lampu pelita sebagai penerang. Namun suasana yang lahir lebih terang dari cahaya listrik mana pun: suasana harapan.
4. Way Tias : Penutup yang Menyentuh
Setelah melewati tiga pekon berat, Way Tias jadi titik akhir perjalanan. Tapi bukan akhir dari semangat. Justru di sinilah para pendamping seperti mengumpulkan sisa tenaga terakhir mereka, hanya untuk melihat warga menyambut dengan gembira.
Pendamping di sini kadang jadi serba bisa: guru, konselor, bahkan fotografer dokumentasi. Semuanya dijalani tanpa mengeluh. Karena bagi mereka, wajah-wajah yang menanti itu adalah sumber tenaga sejati.
Lelah yang Diselipi Tawa
Perjalanan berat ini bukan tanpa bumbu cerita lucu. Motor mogok, ban tenggelam, sepatu hilang di lumpur, itu biasa. Tapi justru momen seperti itulah yang membuat ikatan antara pendamping dan warga semakin kuat.
“Pakai sepatu boot biar keren? Pulang-pulang tinggal sol,” celetuk salah satu pendamping sambil tertawa, duduk di bale bambu.
Ada yang terjebak hujan deras dan akhirnya menginap, tapi pulang-pulang bawa oleh-oleh ikan bakar dan sambal.
Ada juga yang jatuh dari motor, tapi langsung bilang, “Cepet foto! Biar bisa buat story perjuangan!”
Karena perjuangan ini adalah wajah lain dari pembangunan. Di tempat yang tak dijangkau sinyal, masih ada manusia-manusia hebat yang hadir membawa cahaya. P2K2 bukan hanya sesi edukasi. Ini adalah simbol keberpihakan — bahwa negara tidak hanya hadir di pusat kota, tapi juga di tepi-tepi harapan.

1 thought on “Melawan Segala Rintangan, Pendamping PKH Buktikan Cinta untuk Negeri”