Pesisir Barat – Kerja sosial tidak selalu soal jadwal kegiatan atau laporan mingguan. Terkadang, para pendamping sosial harus menjalani perjalanan batin, mengubah tugas menjadi bentuk nyata pengabdian. Hal inilah yang dilakukan oleh para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Pesisir Barat saat mereka menembus empat pekon akses di Kecamatan Bangkunat: Way Haru, Siring Gading, Bandar Dalam, dan Way Tias.
Jangan bayangkan ini sekadar kegiatan biasa. Karena bagi mereka, ini bukan cuma soal “datang, duduk, diskusi, pulang.” Tapi sebuah misi kemanusiaan dengan medan yang bisa bikin motor berpikir dua kali untuk hidup.
Perjalanan yang Tak Hanya Melelahkan Fisik, Tapi Menyentuh Jiwa
Pernyataan seperti, “Kalau belum jatuh di jalan Bangkunat, belum sah jadi pendamping PKH,” awalnya terdengar seperti lelucon khas lapangan. Namun, para pendamping sosial benar-benar membuktikannya ketika mereka harus mendorong motor yang terjebak dalam lumpur sedalam betis, sambil menghindari akar pohon dan batang tumbang di kiri-kanan jalan. Lelucon itu pun berubah menjadi kenyataan yang menggelitik sekaligus menggugah. Dan justru di situlah para pendamping menemukan nilai sejati dari pengabdian mereka.
Di balik tawa yang sering dijadikan pelindung dari rasa lelah, ada semangat luar biasa yang dibawa oleh para SDM PKH Pesisir Barat. Mereka rela menembus hutan, menyeberangi sungai, dan kadang “merangkak” di tebing lumpur demi satu tujuan mulia: membawa ilmu dan harapan ke wilayah-wilayah yang jauh dari jangkauan biasa.
Apa Itu P2K2 dan Mengapa Harus Dijalankan Sampai Ujung Dunia?
Untuk yang belum familiar, P2K2 adalah singkatan dari Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga — kegiatan rutin dalam PKH yang berisi edukasi kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Materinya sangat beragam, dari pengelolaan keuangan keluarga, pentingnya pendidikan anak, kesehatan ibu dan balita, hingga bagaimana orangtua membangun komunikasi yang baik dalam keluarga.
Baca Juga : Kisah Inspiratif KP PKH Siti Marhamah Bangkit Lewat Usaha Keripik Singkong di Lampung Tengah
Kegiatan ini bukan hanya transfer pengetahuan. Ia adalah jembatan antara negara dan rakyatnya — terutama mereka yang berada di wilayah terpinggirkan.
Namun di daerah seperti Bangkunat, para pendamping sosial tidak sekadar datang lalu menjalankan P2K2 begitu saja. Mereka harus menghadapi tantangan ekstrem: mencari sinyal internet yang lebih langka daripada satwa endemik, menyesuaikan jadwal dengan listrik yang datang seminggu sekali, dan menaklukkan jalur yang… sejujurnya, lebih pantas disebut “ujian alam” daripada “jalan”—demi menjaga perasaan jalan-jalan lain di dunia.

1 thought on “Melawan Segala Rintangan, Pendamping PKH Buktikan Cinta untuk Negeri”