Masalah yang dihadapi bukan hanya jalan rusak. Di beberapa pekon, tidak ada listrik stabil, tidak ada sinyal komunikasi, dan akses air bersih pun terbatas. Tapi justru dari keterbatasan itulah lahir solidaritas luar biasa antara SDM PKH dan warga.
Kadang, kegiatan P2K2 berlangsung di saung bambu, dengan penerangan seadanya, diiringi suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing hutan. Tapi tak ada yang mengeluh. Karena mereka sadar : ini perjuangan mulia.
Canda, Tawa, dan Cerita Lucu di Lapangan
Tak semua cerita sedih. Justru, yang bikin perjalanan ini memorable adalah kejadian-kejadian lucu yang hanya bisa dirasakan oleh pelaku lapangan.
- Motor mogok di tengah hutan, tapi malah jadi acara makan bersama karena ada warga lewat bawa durian.
- Seorang SDM PKH jatuh dari motor, tapi bukannya nangis, malah minta difoto, katanya biar “ada kenangannya”.
- Ada juga yang harus tidur di rumah warga karena jembatan runtuh saat hujan, tapi disuguhi ikan bakar plus sambal khas yang bikin betah.
“Pakai sepatu boot biar keren? Pulang-pulang sepatunya tinggal sol.” Guyonan khas SDM PKH Bangkunat
Kenapa Ini Penting?
Karena perjuangan ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini adalah bentuk cinta terhadap negeri, terhadap masyarakat yang terpinggirkan, terhadap harapan yang belum tersentuh teknologi.
Setiap materi P2K2 yang disampaikan adalah upaya membangun pondasi masa depan keluarga penerima manfaat. Di tempat-tempat seperti empat pekon akses ini, PKH bukan sekadar bantuan, tapi cahaya harapan.
Hormat Kami untuk Para Pejuang Sosial
Perjalanan ke Way Haru, Siring Gading, Bandar Dalam, dan Way Tias bukan sekadar soal lokasi. Ini adalah tentang jiwa-jiwa tangguh yang memilih untuk hadir, walau harus berjibaku dengan jalan berlumpur dan rintangan alam. Kegiatan P2K2 di daerah akses ini adalah pengingat bahwa “pengabdian itu bukan soal jarak, tapi soal keberanian untuk terus melangkah.“
Jadi, kalau suatu hari Anda bertemu pendamping PKH yang sepatunya belepotan lumpur dan wajahnya legam karena matahari, jangan tanya “kenapa kusam?”, tapi katakanlah :
“Terima kasih, sudah jadi pahlawan untuk mereka yang tak terlihat.”

1 thought on “Perjuangan Menggugah di Ujung Lampung: Demi P2K2, Mereka Taklukkan Jalanan Bangkunat”